Ada Yang Salah Dengan Diri Saya

Ada yang salah dengan diri saya.

Siang ini begitu terik menyengat, sama seperti hari biasanya. Telepon berdering ternyata om saya hendak mampir di kantor tempat saya bekerja. Beliau menanyakan alamat tempat saya melalui telpon, dan saya kasih patokan dimana letak kantor.

Selang berapa lama telepon berdering, om sudah berada dekat dengan kantor. Saya pun kedepan untuk menghadang om saya yang sudah dekat dan akhirnya kami pun bertemu. Saya persilahkan om saya masuk, dan tak lupa menutup gerbang kantor. Nah, hal setelah ini adalah hal yang membuat saya menyesal…

Ketika sedang chit-chat dengan om saya, terlihat ada sesosok ibu-ibu tua membawa tas masuk me halaman kantor, kemudian saya tunggu apa maunya. Namun dalam hati saya sudah membatin, ini orang kenapa masuk ke halaman padahal gerbang sudah saya tutup.

gerbang kantor

gerbang kantor

Ketika ibu itu sudah dekat dia menyapa, namun belum banyak berkata saya sudah mendahului dia berbicara:

Saya : Sepertinya tadi saya sudah menutup gerbangnya bu, ini kantor jadi ga bisa seenaknya masuk.

Ibu itu: Nggak, tadi buka mas.

Seperti yang sudah diamanatkan buat para pegawai yaitu harus menjaga keamanan kantor, sehingga saya bersikap seperti itu dan memberi tahu orang agar tidak bisa keluar masuk seenaknya di wilayah kantor.

Saya : Yasudah pripun (bagaimana) ?

Ibu itu: Ini mas, saya mau jual kacang, kemaren ada yang ketemu dijalan dari kantor ini beli dagangan saya. Mungkin mas nya juga mau beli?

Ibu itu memasukan tangannya ke tas, namun sebelum barang dagangan ibu itu diperlihatkan saya sudah menjawabnya:

Saya: mboten bu… (nggak bu). Terima kasih…

Saya sudah sadar, nada bicara ibu itu seperti orang menahan sesuatu…menangis karena saya “marahi” karena masuk gerbang kantor yang sudah saya tutup.

Akhirnya sang ibu itu perlahan pergi ke gerbang, dan keluar. Perasaan berkecamuk, meskipun saat itu saya kembali mengobrol dengan om saya, namun pikiran masih ke sikap saya yang tadi begitu bodohnya.

Ibu itu hanya menawarkan dagangannya, dia hanya berusaha. Tak seharusnya sikap saya seperti ini hanya karena ketidaktahuan dia yang masuk halaman meskipun gerbang sudah ditutup. Harusnya saya bisa bersikap lebih manis.

Akhirnya dari kejauhan saya melihat ibu lewat lagi di balik gerbang, tanpa pikir panjang saya bilang om saya, punya duit nggak? saya mau beli sesuatu dari ibu itu?( karena saat itu dompet ketinggalan di ruang kerja). Saya lari ke depan, setelah sampai depan saya sudah melihat ibu itu dari kejauhan di bonceng sepeda oleh lelaki yang sudah tua pula.

Oh, bodohnya saya. Ibu itu dan suaminya ternyata merupakan sosok yang kuat, mereka meskipun sudah tua tetap tidak mau tinggal diam. Mereka menjual makananĀ tanpa kenal lelah (terlihat dari wajah ibu tadi ketika berhadapan dengan saya). Dan apa yang telah saya perbuat? Semakin jauh sepeda mereka berlalu hilang dari pandangan, semakin dalam pula saya merasa menyesali dengan sikap saya. Saya tak bisa menjangkau mereka. Sakit…iya entah kenapa hati saya gak karuan.

Saya hanya bisa menunduk malu, malu dengan diri saya yang tidak menghargai orang lain, malu dengan sikap saya yang seperti ini. Ibu itu mengingatkan saya dengan nenek saya yang juga ibu dari om saya yang berkunjung ke kantor ini, mereka sama-sama masih mandiri dan gak mau tinggal diam meski sudah berusia senja. Maaf bu..

Hal ini bakal saya ingat dan saya jadikan pelajaran hidup. Saya berharap bisa bertemu ibu lagi, dengan sikap saya yang jauh lebih baik dari ini. Saya doakan, semoga ibu dimudahkan rezekinya. Amin.

šŸ˜„