Hujan Abu Vulkanik Merapi

Semalam hujan abu vulkanik dari gunung merapi sampai juga hingga rumah saya yang bisa dibilang cukup jauh dari wilayah merapi meskipun masih di Jogja. Gemuruh dari gunung merapi terdengar hingga kerumah saya, dari pantauan streaming radio jalin merapi ,Ā http://opensource.telkomspeedy.com/listen.pls , aktivitas gunung merapi mengalami peningkatan. Sampai saya menulis ini, jarak aman adalah 20 lebih dari puncak merapi.

Tadi malam desiran abu yang jatuh ke genteng rumah pun terdengar jelas, pedih mata dan tenggorokan jadi tidak nyaman karena abu masuk di pernafasan. Alhasil, saya langsung menggunakan masker.

Berikut adalah foto-foto yang saya ambil tadi siang : Baca lebih lanjut

Menikmati Dengan Kaki

Masa sekarang kendaraan bermotor rasanya semakin memadati setiap sudut jalan, entah itu mobil ataupun sepeda motor. Orang berlalu lalang melaju dengan kecepatan yang berbeda-beda dijalan, tergantung tingkat ketergesaan masing-masing. Saya juga pengendara sepeda motor dengan kecepatan bervariasi untuk mencapai tempat tujuan saya , entah itu berangkat ke kampus, pulang ke rumah, nongkrong bareng temen, ataupun ke warnet.

Dahulu ketika saya belum dapat mengendarai sepeda motor, untuk ke sebuah warung yang lumayan dekat saya selalu berjalan kaki. Namun setelah bisa mengendarai sepeda motor, pergi ke warung itu-pun selalu saya tuju dengan menggunakan sepeda motor. Mungkin karena sudah terbiasa merasakan kemudahan maka saya “tuman” menggunakan kemudahan tersebut walaupun menghabiskan energy bumi dengan tidak hemat.

Dari situ, saya mempunyai ide dengan mengajak teman saya untuk suatu hari menikati perjalanan dengan berjalan kaki. Sebuah ide yang mungkin bagi sebagian orang agak konyol namun bagi saya merupakan sebuah keinginan yang harus saya rasakan nikmatnya. Dan kemudian ide itu terlaksana pada hari minggu tanggal 4 januari 2009 kemarin. Wirobrajan-Condongcatur adalah tempat dimana saya harus mengawali dan mengakhiri perjalanan.

Sekitar pukul 11.00 wib, saya memulai perjalanan. Berangkat dari rumah yashit (wirobrajan) partner saya dalam melakukan perjalanan, dengan terik yang menyengat membuat kulit kami terbakar dan peluh bercucuran banyak sekali. Setiap perjalanan hanya tempat teduh-lah yang selalu jadi perhatian kami. Saat itu saya berpikir betapa sangat kurang pohon rindang di kota jogjakarta ini, kota ini terasa gersang tanpa pepohonan, tak ada semilir angin guna meng”adem”kan badan serta hati šŸ˜€ .

di perempatan tugu
di perempatan tugu

Rute perjalanan kami adalah : WIROBRAJAN-KAMPUNG SERANGAN-KAMPUNG PATHUK-KEMETIRAN-SARKEM-JL.MANGKUBUMI (SARKEM KEUTARA)-GONDOLAYU-TERBAN-SAGAN-UNY-UNY KEUTARA-SOROPADAN (LEWAT JEMBATAN MERAH)-CONDONGCATUR.

Sepanjang perjalanan, kami banyak mengobrol untuk mengalihkan pikiran lelah, haus dan kepanasan adalah musuh kami waktu itu. Jalanan jogja sungguh nikmat kala itu untuk dijelajahi namun tak sedikit pula kami harus terganggu dengan pedagang kaki lima. Tak apalah, mereka itu mencari nafkah dan semoga usaha mereka sukses hingga mereka bisa membeli tempat yang lebih layak dan tak menggangu pejalan yang lain selain kami. Eh, mungkin karena sedikit pejalan kaki di Jogja kali ya hingga mereka dengan leluasa berjualan disana. Coba kalo pejalan kaki itu banyak seperti di luar negeri, hingga tak ada yang bisa berjualan ditrotoar :D. Ah sudahlah……..

Kami sempat beristirahat beberapa kali karena tak tahan dengan panas, dan tanpa disadari kulit ini jadi semakin item, badan juga bau asem, komplit dah. Di UNY hati kami sedikit lega, karena selain banyak pohon disana ada juga mahasiswi-mahasiswi lalu lalang dengan beraneka macam dan rupa. Karena perjalanan masih setengah lagi atau mungkin seperempat lagi maka dengan tenaga yang tersisa perjalanan dilanjutkan.

Ketika sampai di daerah polda concat, kami mampir sebentar ke angkringan untuk membeli minuman dan perjalanan kami lanjutkan hingga ke tempat tujuan( tempat kang iwanz teman kampus). Sesampainya di tempat pak iwan, kami sempat berfoto di depan rumahnya. Tak berselang berapa lama kami diteriakin WONG EDAAAAAAAN!!! oleh teman saya iwan. Hahahaha….itu saya anggap pujian, karena ya memang kelakuan saya dan yashit benar gila menurut kami.

rumah pak iwanz
rumah pak iwanz

Thanks kang iwan atas minuman es kolak ijo-nya, kapan nih mau nyoba dari concat-wirobrajan???
Buat pembaca blog ini, coba deh kapan2 jalan seperti ini. Setelah jalan, badan enteng lho dan kita dapat menikmati sudut2 kota dengan lebih lama. Walau malam nanti minta pijet šŸ˜€

Ameng Ka curug Cinulang

curug cinulang

curug cinulang

Sekitar semingu yang lalu saya diajak oleh bapak untuk nemenin mudik ke bandung (yang mudik bapak saya, saya gak mudik coz asli jogja šŸ˜€ ). Sebenarnya hati gojag gajeg ingin ikut apa tidak, namun ya untuk memperkuat silaturahmi ke keluarga yang di bandung maka saya memutuskan untuk ikut bapak ke bandung.

Kami menginap di keluarga bapak saya yang ada di daerah cicalengka di rumah uwak (paman/bude). Tempatnya lumayan rame lah, dan letaknya di daerah pegunungan gitu, dekat dengan nagreg yang wilayahnya macet ketika mudik/arus balik kemarin.
Baca lebih lanjut

Sehari Sebelum Jadi Tambah Kere

Adalah hari yang dirasakan cukup berat untuk beranjak ke hari berikutnya , karena sudah pada tahu sendirilah..bbm naik di hari setelahnya. Sehari sebelumnya saya mencoba untuk mencari bensin di pom dekat umah saya namun sayang hasilnya nihil karena bensin sudah habis tentunya dikarenakan para pengendara sepeda motor mengisi tangkinya dengan pembelian maksimal.

Di hari berikutnya yaitu jumat saya kembali mencari premium dan beruntung mendapat jatah karena memang saya lebih awal untuk mengantri disaat pergantian dari sore ke malam. Itupun mengantri dengan antrian yang panjang namun tak menjadi masalah karena demi mendapatkan premium sebelum harganya naik.

Sehari sebelum saya menjadi tambah kere itu membuka hati saya tentang beban orang tua yang akan semakin bertambah karena harus memberikan suatu hal yang lebih dari biasanya. Sungguh itu tak dapat ditolak lagi karena memang begitu adanya.

Tersadar beberapa upaya diri untuk berusaha untuk tidak selalu terbawa arus , diri ini tidak boleh seperti dulu lagi karena semakin himpitan beban ini begitu terasa. Semoga mereka juga membuka mata sehingga mereka menyadari bahwa upaya-upaya mereka untuk negeri ini banyak yang tidak tepat walaupun ada benarnya.

Kalaupun boleh dikata akupun benci mereka karena menurutku tidak berpihak kepada kami, ya memang aku benci. Akupun ada upaya untuk menghibur diri melepaskan segala kepenatan beban pikiran walaupun tidak seharusnya aku ikut memikirkan. Hari itu berakhir di seputaran nol kilometer Jogjakartaku..

Sang Penyelamat Lingkungan

Saat ini lingkungan alam sudah sangat memprihatinkan,dimana kerusakan lingkungan terjadi dimana-mana bahkan disekitar anda pun saya yakin dapat dijumpai.Contoh kerusakan lingkungan yang terjadi di indonesia dan sangat parah dan membuat saya mengelus dada adalah bencana yang terjadi di Sidoarjo yaitu meluapnya lumpur lapindo.

Namun terlepas dari semua itu ternyata masih ada orang ataupun sekelompok orang yang berusaha untuk menyelamatkan lingkungan yang telah rusak.Kelompok tani murakapi contohnya,kelompok tani ini terletak di Desa Jabung, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur.Desa jabung mempunyai masyarakat yang makmur dan kebutuhan hidupnya dapat tercukupi dengan baik.

Jauh sebelumnya ,yaitu sekitar tahun 70 an masyarakat desa tersebut bekerja dengan memanfaatkan hasil hutan berupa kayu dan dengan berjalannya waktu maka pohon-pohon di hutan desa tersebut menjadi semakin sedikit dan terbentuk lahan kritis,dimana ditempat itu sumber mata air menjadi langka,dan kehidupan masyarakat menjadi serba kesusahan bencana terjadi seperti banjjir dan tanah longsor.

Akhirnya timbulah kesadaran di warga desa tersebut,dimotori oleh seorang petani yaitu pak surat maka dimulailah usaha untuk menanami lahan tersebut dengan pohon-pohon untuk melakukan penghijauan kembali di lahan tersebut.Setelah lahan tersebut kembali hijau,munculah mata air yang memberi kesejahteraan bagi masyarakat tersebut.Wargapun mulai memanfaatkan air tersebut untuk kehidupan sehari-hari.

Setiap rumah pun dialiri air,tidak seperti waktu sebelumnya mencari air sampai berkilo-kilo meter jaraknya.Untuk mendapatkan airpun tidak dipungut biaya hanya dikenakan iuran untuk pembuatan bak penampungan.

Selain dari bertani,kelompok tani murakapi juga mempunyai usaha sampingan yang lain,beternak madu.Kegiatan tersebut tidak memiliki waktu yang banyak untuk mengurusnya namun kegiatan ini memiliki keuntungan yang lumayan.

Kelompok tani murakapi memperoleh penghargaan KALPATARU pada tahun 2003,meskipun begitu kegiatan petani tersebut tidak hanya berhenti begitu saja.Justru dengan penghargaan tersebut kelompok tani ini makin gigih untuk melsetarikan lingkungan.

Patut dicontoh kesadaran warga tersebut untuk melestarikan lingkungan dan usaha tersebut memberikan hasil yang sangat bermanfaat untuk kehidupan meraka maupun orang banyak.Tulisan ini saya persembahkan untuk memperingati hari bumi.

Source:Periskop di METRO TV dan disini