Kopi Pahit

“Bu, kok pahit kopine”, sebuah kalimat dari pelanggan warung nenekku

Ya, nenekku adalah seorang penjaja minuman disebuah warung bakmi yang dimiliki oleh almarhum pakde Sawal namun sekarang dikelola mas Agus anaknya, terletak di dekat jembatan kali Opak Piyungan. Sebuah warung bakmi yang cukup terkenal pada zamannya, entah kenapa akhir-akhir ini mulai sepi.

Puluhan tahun nenekku telah menjajakan minumannya di samping warung bakmi tersebut, jauh sebelum aku lahir beliau sudah memulai usahanya. Dengan pendapatan yang mungkin tak seberapa, namun kadang beliau memberikan uangnya atau istilahnya nyangoni ketika aku berkunjung ke sana dari aku kecil bahkan hingga saat ini. Mengharukan.

Malam itu aku menemani nenekku berjualan, dan seorang pelanggan komplain dengan kopi yang dibuat oleh nenekku. Apakah sebagai penjual minuman nenekku merasa gagal? Tentu saja tidak! Segera nenekku menambahkan gula hingga pelanggan itu merasa cukup.

“Biasane malah sami remen sing ngoten niku pak”, ucap nenekku yang menerangkan bahwa biasanya orang-orang suka dengan kopi yang seperti itu. Bagiku nenekku adalah pembuat minuman yang hebat, setiap aku kesana teh hangat nan kental dengan gula batu tersaji untukku ๐Ÿ™‚ .

Seperti dalam kehidupan ini, terkadang aku menyajikan kopi pahit untuk orang lain. Dimana orang lain tidak sreg dengan apa yang telah aku lakukan , padahal dibalik semua itu aku tidak pernah bermaksud sekalipun untuk itu, aku hanya ingin menyajikan sesuatu dengan caraku sendiri, ada yang suka atau tidak dengan cara kita itu hal biasa. Namun yang pasti aku selalu ingin memberikan yang terbaik untuk semua orang.

Memang menyakitkan ketika apa yang telah kita lakukan ternyata mendapatkan respon yang tidak bagus, seperti yang dilakukan nenekku. Dengan senyumannya nenekku menangani apa yang dikeluhkan pelanggan tersebut, dan aku pun harusnya seperti itu. Semua hal pastinya harus aku tangani dengan baik dan ditambah dengan senyuman. Dari nenekku aku belajar, dari nenekku aku bersabar. Saat itu juga beban fikiranku dalam permasalahanku jadi agak berkurang karena aku yakin dan ikhlas akan menanganinya ๐Ÿ˜€ .

Oh iya, selain menemani nenekku, aku juga mencicipi bakmi jawa di warung mas Agus. Dan setelah selesai aku bersiap untuk membayarnya, namun ketika akan membayar, mbak Yuni saudara perempuan mas Agus yang juga berjualan berkata “Uwis dibayar Simbah kok”. See?? Aku adalah seorang cucu yang beruntung!!

Iklan

9 thoughts on “Kopi Pahit

  1. Ping balik: Ada Yang Salah Dengan Diri Saya | layang kangen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s