Menikmati Dengan Kaki

Masa sekarang kendaraan bermotor rasanya semakin memadati setiap sudut jalan, entah itu mobil ataupun sepeda motor. Orang berlalu lalang melaju dengan kecepatan yang berbeda-beda dijalan, tergantung tingkat ketergesaan masing-masing. Saya juga pengendara sepeda motor dengan kecepatan bervariasi untuk mencapai tempat tujuan saya , entah itu berangkat ke kampus, pulang ke rumah, nongkrong bareng temen, ataupun ke warnet.

Dahulu ketika saya belum dapat mengendarai sepeda motor, untuk ke sebuah warung yang lumayan dekat saya selalu berjalan kaki. Namun setelah bisa mengendarai sepeda motor, pergi ke warung itu-pun selalu saya tuju dengan menggunakan sepeda motor. Mungkin karena sudah terbiasa merasakan kemudahan maka saya “tuman” menggunakan kemudahan tersebut walaupun menghabiskan energy bumi dengan tidak hemat.

Dari situ, saya mempunyai ide dengan mengajak teman saya untuk suatu hari menikati perjalanan dengan berjalan kaki. Sebuah ide yang mungkin bagi sebagian orang agak konyol namun bagi saya merupakan sebuah keinginan yang harus saya rasakan nikmatnya. Dan kemudian ide itu terlaksana pada hari minggu tanggal 4 januari 2009 kemarin. Wirobrajan-Condongcatur adalah tempat dimana saya harus mengawali dan mengakhiri perjalanan.

Sekitar pukul 11.00 wib, saya memulai perjalanan. Berangkat dari rumah yashit (wirobrajan) partner saya dalam melakukan perjalanan, dengan terik yang menyengat membuat kulit kami terbakar dan peluh bercucuran banyak sekali. Setiap perjalanan hanya tempat teduh-lah yang selalu jadi perhatian kami. Saat itu saya berpikir betapa sangat kurang pohon rindang di kota jogjakarta ini, kota ini terasa gersang tanpa pepohonan, tak ada semilir angin guna meng”adem”kan badan serta hati šŸ˜€ .

di perempatan tugu
di perempatan tugu

Rute perjalanan kami adalah : WIROBRAJAN-KAMPUNG SERANGAN-KAMPUNG PATHUK-KEMETIRAN-SARKEM-JL.MANGKUBUMI (SARKEM KEUTARA)-GONDOLAYU-TERBAN-SAGAN-UNY-UNY KEUTARA-SOROPADAN (LEWAT JEMBATAN MERAH)-CONDONGCATUR.

Sepanjang perjalanan, kami banyak mengobrol untuk mengalihkan pikiran lelah, haus dan kepanasan adalah musuh kami waktu itu. Jalanan jogja sungguh nikmat kala itu untuk dijelajahi namun tak sedikit pula kami harus terganggu dengan pedagang kaki lima. Tak apalah, mereka itu mencari nafkah dan semoga usaha mereka sukses hingga mereka bisa membeli tempat yang lebih layak dan tak menggangu pejalan yang lain selain kami. Eh, mungkin karena sedikit pejalan kaki di Jogja kali ya hingga mereka dengan leluasa berjualan disana. Coba kalo pejalan kaki itu banyak seperti di luar negeri, hingga tak ada yang bisa berjualan ditrotoar :D. Ah sudahlah……..

Kami sempat beristirahat beberapa kali karena tak tahan dengan panas, dan tanpa disadari kulit ini jadi semakin item, badan juga bau asem, komplit dah. Di UNY hati kami sedikit lega, karena selain banyak pohon disana ada juga mahasiswi-mahasiswi lalu lalang dengan beraneka macam dan rupa. Karena perjalanan masih setengah lagi atau mungkin seperempat lagi maka dengan tenaga yang tersisa perjalanan dilanjutkan.

Ketika sampai di daerah polda concat, kami mampir sebentar ke angkringan untuk membeli minuman dan perjalanan kami lanjutkan hingga ke tempat tujuan( tempat kang iwanz teman kampus). Sesampainya di tempat pak iwan, kami sempat berfoto di depan rumahnya. Tak berselang berapa lama kami diteriakin WONG EDAAAAAAAN!!! oleh teman saya iwan. Hahahaha….itu saya anggap pujian, karena ya memang kelakuan saya dan yashit benar gila menurut kami.

rumah pak iwanz
rumah pak iwanz

Thanks kang iwan atas minuman es kolak ijo-nya, kapan nih mau nyoba dari concat-wirobrajan???
Buat pembaca blog ini, coba deh kapan2 jalan seperti ini. Setelah jalan, badan enteng lho dan kita dapat menikmati sudut2 kota dengan lebih lama. Walau malam nanti minta pijet šŸ˜€

Iklan