Sebuah Potret Gerbong Terakhir

gerbong.jpg

Kala senja pulang ke peraduan,diwaktu itu pula mulai terasa sesak tumbuh di nurani ini.Seperti itu sebuah asa sekedar pergi pulang tinggalkan kota ini.Oh sungguh pesona itu tak dapat aku hilangkan dari bayang bayang hadirmu disini.Semua itu tidak sirna namun tidak juga pergi dan semua  bukan mimpi.Kulihat ke kanan dan kiri semua diam dan tak peduli lagi akan semua ini,walaupun ini sedikit sendu namun ini adalah keindahan.Keindahan yang bergelora membara dari kerinduan kasih.

Di antara gedung tua itu ,di tengah kota ini,di sekitar jantung kotaku,aku melepasnya.Bukan melepas untuk pergi namun melepasuntuk menanti,menanti datangnya kembali menanti datangnya fajar pagi.Oh,pagi yang sejuk yang selalu membasahi bumi dengan embun-embunnya yang sejuk merona membelah kalbu di jiwa.

Aku yakin ini jalannya,sebuah jalan menuju surga yang indah walaupun surga ini tidak abadi disini.Tapi surga inilah yang menghiasi relung hati yang telah kering  karena sebuah asa yang pernah kugenggam namun akhirnya tak datang lagi.DIA telah menghadirkan surga dan dia adalah surgaku disini.Akan kujaga semua wangimu oh melati.

(Kutulis ini ketika bayangmu terekam di nurani)

Iklan

6 thoughts on “Sebuah Potret Gerbong Terakhir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s