Kopi Pahit

30 Des

“Bu, kok pahit kopine”, sebuah kalimat dari pelanggan warung nenekku

Ya, nenekku adalah seorang penjaja minuman disebuah warung bakmi yang dimiliki oleh almarhum pakde Sawal namun sekarang dikelola mas Agus anaknya, terletak di dekat jembatan kali Opak Piyungan. Sebuah warung bakmi yang cukup terkenal pada zamannya, entah kenapa akhir-akhir ini mulai sepi.

Puluhan tahun nenekku telah menjajakan minumannya di samping warung bakmi tersebut, jauh sebelum aku lahir beliau sudah memulai usahanya. Dengan pendapatan yang mungkin tak seberapa, namun kadang beliau memberikan uangnya atau istilahnya nyangoni ketika aku berkunjung ke sana dari aku kecil bahkan hingga saat ini. Mengharukan.

Malam itu aku menemani nenekku berjualan, dan seorang pelanggan komplain dengan kopi yang dibuat oleh nenekku. Apakah sebagai penjual minuman nenekku merasa gagal? Tentu saja tidak! Segera nenekku menambahkan gula hingga pelanggan itu merasa cukup.

“Biasane malah sami remen sing ngoten niku pak”, ucap nenekku yang menerangkan bahwa biasanya orang-orang suka dengan kopi yang seperti itu. Bagiku nenekku adalah pembuat minuman yang hebat, setiap aku kesana teh hangat nan kental dengan gula batu tersaji untukku :) .

Seperti dalam kehidupan ini, terkadang aku menyajikan kopi pahit untuk orang lain. Dimana orang lain tidak sreg dengan apa yang telah aku lakukan , padahal dibalik semua itu aku tidak pernah bermaksud sekalipun untuk itu, aku hanya ingin menyajikan sesuatu dengan caraku sendiri, ada yang suka atau tidak dengan cara kita itu hal biasa. Namun yang pasti aku selalu ingin memberikan yang terbaik untuk semua orang.

Memang menyakitkan ketika apa yang telah kita lakukan ternyata mendapatkan respon yang tidak bagus, seperti yang dilakukan nenekku. Dengan senyumannya nenekku menangani apa yang dikeluhkan pelanggan tersebut, dan aku pun harusnya seperti itu. Semua hal pastinya harus aku tangani dengan baik dan ditambah dengan senyuman. Dari nenekku aku belajar, dari nenekku aku bersabar. Saat itu juga beban fikiranku dalam permasalahanku jadi agak berkurang karena aku yakin dan ikhlas akan menanganinya :D .

Oh iya, selain menemani nenekku, aku juga mencicipi bakmi jawa di warung mas Agus. Dan setelah selesai aku bersiap untuk membayarnya, namun ketika akan membayar, mbak Yuni saudara perempuan mas Agus yang juga berjualan berkata “Uwis dibayar Simbah kok”. See?? Aku adalah seorang cucu yang beruntung!!

Tag:, , ,

7 Tanggapan to “Kopi Pahit”

  1. westnu Desember 30, 2011 pada 3:19 pm #

    lama ga posting, kalimatnya banyak yang amburadul

  2. sandalian Desember 30, 2011 pada 8:25 pm #

    Ini rumah simbahmu yang kita lewati pas ke pantai dulu itu bukan?

    • westnu Desember 30, 2011 pada 9:00 pm #

      Betul kang, di piyungan. Sebelah barat jembaan kali opak pokoke

  3. Antyo Rentjoko Januari 2, 2012 pada 1:42 am #

    Lha bakminé piyé, enak po? Penting iki. :D

    • westnu Januari 2, 2012 pada 10:00 am #

      woh ada pamantyo disini :O

      bakminya enak paman, saya suka bakmi jawa juga sih soalnya :D

  4. Goop Januari 4, 2012 pada 4:24 pm #

    nek gegandhengan karo simbah putri sing wes sepuh
    pancen kerep nggawe greghel ing ati :D
    kadangkala aku malah sok mrebes mili hehe

    • westnu Januari 4, 2012 pada 4:52 pm #

      betul uncle goop, curhatan seorang cucu :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 297 pengikut lainnya.