Sebuah Potret Gerbong Terakhir

Kala senja pulang ke peraduan,diwaktu itu pula mulai terasa sesak tumbuh di nurani ini.Seperti itu sebuah asa sekedar pergi pulang tinggalkan kota ini.Oh sungguh pesona itu tak dapat aku hilangkan dari bayang bayang hadirmu disini.Semua itu tidak sirna namun tidak juga pergi dan semua bukan mimpi.Kulihat ke kanan dan kiri semua diam dan tak peduli lagi akan semua ini,walaupun ini sedikit sendu namun ini adalah keindahan.Keindahan yang bergelora membara dari kerinduan kasih.
Di antara gedung tua itu ,di tengah kota ini,di sekitar jantung kotaku,aku melepasnya.Bukan melepas untuk pergi namun melepasuntuk menanti,menanti datangnya kembali menanti datangnya fajar pagi.Oh,pagi yang sejuk yang selalu membasahi bumi dengan embun-embunnya yang sejuk merona membelah kalbu di jiwa.
Aku yakin ini jalannya,sebuah jalan menuju surga yang indah walaupun surga ini tidak abadi disini.Tapi surga inilah yang menghiasi relung hati yang telah kering karena sebuah asa yang pernah kugenggam namun akhirnya tak datang lagi.DIA telah menghadirkan surga dan dia adalah surgaku disini.Akan kujaga semua wangimu oh melati.
(Kutulis ini ketika bayangmu terekam di nurani)
Walah2… mas wisnu…
huhuhuhuhuhuhu *terharu…..
aku kok jadi sedih banget ya abis baca ini? berasa tertohok, huhu…. wisnu tanggung jawab!
@bakulpulsa & dimas
wah kang…..aku nulis itu juga sambil *mbrambangi*….
muga tu cewe tau prasaan lo
smgdh nu